Rupiah Diprediksi Stabil

Nilai tukar rupiah pada dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan stabil, walau bank sentral AS (The Federal Reserve) menambah suku bunga referensinya (Fed Rate) bln. ini, merujuk pada perbaikan data tenaga kerja dan juga laju inflasi Negeri Paman Sam itu.

Rupiah Diprediksi Stabil
Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyampaikan, kenaikan Fed Rate memanglah bakal bikin nilai tukar sebagian mata uang negara-negara di lokasi Asia bergejolak, termasuk juga kurs rupiah. Tetapi, gejolak itu dipercaya cuma berbentuk sesaat.

Keadaan fundamental ekonomi Indonesia makin kuat. Hingga, efek Fed Rate ke Indonesia tidaklah terlalu penting. Rupiah condong stabil.

Terkecuali aspek fundamental ekonomi, sambung dia, pemerintah juga selalu menghadapi kenaikan Fed Rate. Paling akhir, The Fed menambah suku bunganya sebesar 25 basis poin pada Desember 2016 lantas. Saat itu, pemerintah menguatkan cadangan devisa dan juga protokol manajamen krisis di pasar keuangan.

Hal seirama di sampaikan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Mohammad Faisal kepada http://kursdollar.co.id. Menurutnya, dampak kenaikan Fed Rate cuma periode pendek. Pasalnya, ia menilainya, fundamental ekonomi nasional sekarang ini cukup kuat.

Fundamental cukup kuat, tampak perkembangan ekonomi 5, 02 %, posisi cadangan devisa bertambah jadi US$117 miliar, neraca perdagangan surplus.

Tetapi, untuk periode panjang, ia mengingatkan, pemerintah butuh mewaspadai imbas kenaikan Fed Rate yang punya potensi mendorong kenaikan yield obligasi dan juga setelah itu punya potensi tingkatkan beban Biaya Pendapatan dan juga Berbelanja Negara (APBN).

Maka dari itu, ia memohon, pemerintah dan juga Bank Indonesia (BI) mewaspadai dengan melaunching kebijakan yang berbentuk antisipasi periode pendek sampai panjang.

Wakil Ketua Bagian Kebijakan Moneter, Fiskal, dan juga Umum Kamar Dagang dan juga Industri (Kadin) Indonesia Raden Pardede menjelaskan, imbas kenaikan Fed Rate pada dunia usaha masihlah belum menentu.

Bahkan juga, hal semacam ini begitu tergantung pada kebijakan BI dalam merespon kenaikan bunga referensi bank sentral AS itu.

Kenaikan FFR ini telah cukup lama diproyeksikan. Artinya, bergantung pada bagaimana BI bakal merespon, apakah BI akan menambah atau juga tak.

Apabila kenaikan Fed Rate sebesar 25 basis poin, lanjutnya, BI tidak bakal turut mengerek suku bunga referensi BI dan juga imbasnya pada dunia usaha tidak demikian penting. Toh, dunia usaha juga sudah mempertimbangkan potensi itu.

Cuma saja, apabila kenaikan FFR kian lebih 25 basis poin, imbasnya bakal bikin dolar AS bertambah mencolok dan juga punya potensi bikin banyak dana kembali pada AS, hingga peran BI kembali dinanti oleh dunia usaha dan juga pasar.

Bila naik kian lebih 25 basis poin, BI mesti hati-hati dalam menerangkannya ke dunia usaha dan juga pasar lantaran ada kepanikan kemudian.